Sholawat Pitutur merupakan salah satu bentuk kesenian yang ada di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Sholawat pitutur dapat digambarkan dengan kesenian berbasis keagamaan. Biasanya Sholawat pitutur ini akan ditampilkan pada acara-acara religi atau keagamaan seperti pengajian, sunat, akikah, hajat, atau sekedar pentas untuk menjadi pengisi atau hiburan. Sholawat pitutur memiliki kemiripan dengan ”hadroh” atau “berjanjen”, hanya saja lagu lagu atau srokal yang digunakan oleh sholawat pitutur memiliki ciri khasnya sendiri. Isi dari lirik lagu yang dinyanyikan berkaitan dengan pitutur, petuah, nasihat atau berisikan perbaikan diri agar menjadi pribadi yang baik dengan Tuhan. Biasanya, sholawat pitutur akan diiringi dengan beberapa instrumen perkusi pendukung. Instrumen tersebut seperti kendang, rebana, kecrek, bedhug, dan juga rebana besar yang disebut dengan gong. Dalam satu grup sholawat pitutur biasanya terdiri dari 10-15 orang dengan rincian terbagi menjadi pengiring dan vokal.

Sejarah

Sholawat merupakan bentuk dari doa dan pengharapan berkah dengan ucapan baik yang ditujukan kepada nabi ataupun Tuhan yang Maha Esa. Pitutur berarti pelajaran, nasihat atau peringatan (Prawiroatmodjo, 1957: 507). Sholawat pitutur merupakan salah satu kesenian rohani yang berasal dari Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.

Pada awalnya, sholawat pitutur ini berasal dari sesepuh yang bernama Bapak Duri. Beliau merupakan orang pertama yang mempelopori adanya Sholawat Pitutur di kalangan masyarakat Dusun Kalikotak. Berawal dari keresahan Bapak Duri dengan kesenian sholawat yang ada di Minggir. Beliau berpikir hal apa yang dapat membedakan atau ciri khas sholawat yang ada di Dusun Kalikotak dengan Sholawat yang ada di daerah-daerah lainnya. Seiring berjalannya waktu, dengan banyak diskusi bersama grup-grup sholawat luar daerah, banyak insight yang menjadi bahan pertimbangan untuk membuat ciri khas sholawat yang ada di Dusun Kalikotak.

Sama halnya dengan sholawat pada umumnya, Sholawat Pitutur ini menggunakan instrumen seperti rebana, bedug kecil dan kendang. Sholawat atau lagu-lagu yang dibawakan juga sama, tetapi yang membedakan adalah pada Sholawat Pitutur terdapat lagu atau srokal-srokal yang menjadi ciri khas kesenian tersebut. Srokal-srokal yang menjadi ciri khas sholawat pitutur tersebut liriknya berisi terkait nasihat atau petuah dalam menjalani hidup untuk terus berserah diri kepada Allah Tuhan yang Maha Esa. Setiap kali pementasan, daftar lagu yang dibawakan oleh grup Sholawat Pitutur ini ada dua yaitu sholawat secara umum dan juga sholawat pitutur itu sendiri.

Dari segi lagu apabila dibandingkan dengan grup sholawat lain, dapat dikatakan bahwa grup Sholawat Pitutur ini unik dan menarik. Mengapa demikian, karena dari segi instrumen yang digunakan salah satunya menggunakan kendang. Dimana unsur tradisional dan budaya Islam bercampur dan berakulturasi di musik tersebut. Tempo yang  dimainkan oleh grup Sholawat Pitutur ini memiliki tempo yang slow, sehingga terlihat masih sangat klasik dan tetap mempertahankan keaslian yang menjadi ciri khas dari Sholawat Pitutur.

Satu grup Sholawat pitutur biasanya terdiri dari 10-15 orang, tergantung pada ketersediaan sumber daya manusia yang ada. Dari 10-15 orang penampil tersebut akan dibagi menjadi pemusik dan vokal. Biasanya alat musik dimainkan oleh 6-8 orang laki- laki dan vokal terdiri dari 3-5 orang campuran, perempuan dan laki-laki. Sholawat Pitutur ini dipentaskan ketika acara atau kegiatan rohani, seperti pengajian, 7 bulanan, sunat, dan berbagai bentuk selamatan lainnya. Tidak hanya itu, grup Sholawat Pitutur Kalikotak ini juga beberapa kali tampil di acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman maupun Dinas Kebudayaan Provinsi DIY dan acara penting pemerintah.

Kajian

Kesenian Sholawat Pitutur sebagai salah satu kesenian klasik yang masih dilestarikan oleh satu komunitas hingga saat ini. Ayah Pak Thohari mengarang srokal yang mempunyai ciri khas yang hanya dimiliki kelompok Pak Thohari. Tiap kelompok dibawakan membawa kesan unik serta menarik untuk ditelisik lebih jauh. Kesenian ini perlu dilestarikan dengan upaya regenerasi penggiatnya. Sulitnya menemukan regenerasi dikarenakan minat kaum muda yang kurang serta tidak melek akan budaya. Hal yang perlu dilakukan lebih awal adalah bagaimana memahamkan kaum muda terkait kebudayaan dari dasar dan bagaimana menyadarkan kaum muda akan pentingnya melestarikan kesenian yang sudah dimiliki sebelumnya.

Kesenian sholawat pitutur ini menjadi contoh bagaimana satu jenis kebudayaan bisa berkembang menjadi sub-kultur yang lebih kecil komunitasnya dan lebih spesifik kegiatannya. Sholawat artinya adalah puji-pujian terhadap nabi namun sebagai praktek budaya sholawat ini menjadi pujian dalam bentuk lagu dan musik. Praktek budaya ini tetap memakai sholawat untuk memaknai kegiatannya namun seiring perjalanannya, muncul kelompok-kelompok kecil yang memiliki ciri khas sholawatnya sendiri. Ciri-ciri ini  biasanya dimunculkan  oleh para habib yang kemudian dihafalkan pula oleh pengikutnya. Di sini sholawat pitutur yang dikembangkan oleh kelompok kecil Pak Duri berkembang menjadi tontonan selingan di sela-sela acara pengajian. Terlihatlah bahwa bentuk budaya itu dinamis dan manusia sebagai pegiat budaya selalu memiliki kreatifitas untuk menciptakan bentuk dan ragam yang baru dari satu macam jenis budaya. Kegiatan sholawatan yang awalnya adalah puja-puji untuk nabi, telah di variasi dan dimodifikasi menjadi performing arts untuk dipertontonkan. Bersamaan dengan acara sholawat pitutur ini biasanya juga ada tarian Badui yang tampil dengan sholawat ini. Dari praktek yang bersifat religius (sholawat), sholawat pitutur ini bertransformasi menjadi satu bentuk kesenian yang ditambahi bentuk kesenian lain seperti musik, lagu dan tari.